Bagi pengalaman (1): ASI Eksklusif

Aku seorang ibu bekerja dengan satu org anak. Ketika pertama kali hamil sekitar setahun lalu, aku banyak mengkonsumsi buku dan bacaan ttg kehamilan, kelahiran, dan bayi. Buku favoritku adl tulisan Miriam Stoppard yg sarat dengan tulisan dan miskin gambar. I did everything by the book, sampai2 di ruang persalinan pun, di tengah puncak kesakitan menjelang melahirkan aku masih mengingat informasi & nasihat2 Stoppard. Alhamdulillah Lintang lahir dengan sangat lancar dan sehat (dia lahir hanya sekitar 2,5 jam setelah kontraksi dimulai, pdhal aku br pertama kali melahirkan dan tdk menggunakan pemacu apapun).

Aku msh meneruskan membaca tulisan ttg perawatan bayi. Semua “mengharuskan” ibu memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bln pertama & diteruskan hingga 2 th. (Ibu2 jaman sekarang pasti tahu bgm promosi ttg ASI eksklusif menguasai seluruh perbincangan ttg bayi & laktasi,  & Ibu yg tidak “patuh” akan cenderung “disalahkan”).

Di tengah jalan aku kewalahan. Aku kesulitan memanage energi, fikiran & emosi shg ASI pun berkurang scr drastis (kurasa, krn wkt itu aku msh dlm proses penyesuaian diri dg posisi baru di kantor). Menjelang umur 4 bln dg sangat menyesal aku memberikan susu formula sbg tambahan. Paling banyak hanya 60 cc/hari. Tp memasuki umur 6 bln konsumsi susu formula makin bny & belum genap 7bln, Lintang menolak setiap kali mau disusui. Aku sdh mengkonsumsi suplemen penambah ASI & jg minum susu  utk ibu menyusui. Meski sedikit, aku msh berusaha memerah ASI sekali di kantor dan 2x di rumah, tp rasanya nggak mempan jg… Apa daya mulai saat itu dia minum susu formula.

Berdasarkan trend saat ini, tdk ada alasan apapun yg bisa digunakan sbg pembenar tindakanku. Apalagi, terbukti dg anakku yg berkali2 diare & berat badannya kurang. Rasanya sedih nggak ketulungan. Untungnya suamiku nggak pernah menyalahkan aku, begitu jg dg dokter anak yg kutemui. Setidaknya, mereka tdk menggunakan kata-kata yg menyakitkan ketika memberi masukan, tapi pandangan “terkejut” & “menyalahkan” msh sering kutemui. Aku tentu setuju dg trend ASI eksklusif  terlebih krn konon dibuat berdasarkan penelitian & turut dipromosikan oleh UNICEF. Tp aku tidak setuju ketika hal itu dijadikan sbg judgement kepada si ibu yg tdk mampu memenuhinya. Bagiku, setiap usaha harus dihargai. Lain ceritanya kalau ia mmg td berusaha.

Btw, pelan-pelan daya tahan Lintang mulai membaik. Sekarang, sdh lbh dari 2 bln dia nggak diare.  Umur 10 bln dia minta makan nasi, sayur, & lauk berbumbu spt org dewasa (maklum tantenya bny & tdk seorg pun yg makan bubur apalagi tim saring :-) ). Lagi-lagi aku menyalahi urutan pemberian makanan padat. Tapi, skrg indikatorku sederhana saja: dia tdk diare🙂

~ by lintangrembulan on May 3, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: